Rabu 26 April 2023 Siswa-siswi kelas 10-12 MA NU Hasyim Asy’ari 2 Kudus melaksanakan kegiatan silaturrahim ke rumah Bapak/Ibu guru mulai jam 7.30-Selesai. Siswa-siswi berkumpul di halaman madrasah dan pergi dengan sejumlah 15 angkot naik secara berkelompok, dan berkunjung sekitar 18 rumah Bapak/Ibu guru.
Silaturrahim adalah amalan utama karena mampu menyambungkan apa-apa yang putus. Oleh karena itu, silaturrahim memiliki keutamaan atau manfaat yang luar biasa.
Silaturrahim adalah salah satu amalan umat muslim untuk menyambung tali persaudaraan. Silaturrahim dapat kita lakukan kapan saja, namun amalan ini menjadi salah satu agenda utama saat momen hari raya Idul Fitri atau Lebaran.
Manusia tidak akan pernah lepas dari kesalahan dan dosa. Biasanya, hal ini bisa menyebabkan suatu hubungan terputus. Untuk menyambungkan tali yang sudah terputus, umat muslim dianjurkan untuk bersilaturrahim.
Secara bahasa, silaturrahim berasal dari kata shilah yang memiliki arti hubungan dan rahim artinya kerabat. Rahim sendiri juga berasal dari kata Ar Rahmah yang berarti kasih sayang atau menjalin kekerabatan.
Hal ini sebagaimana dalam salah satu hadits, yang artinya: “Bukanlah bersilaturrahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturrahim adalah yang menyambung apa yang putus.” (HR Bukhari)
Setelah siswa-siswi sampai di rumah guru dan perwakilan siswa membacakan pembukaan dan isi kedatangan ke rumah guru untuk silaturrahim di hari raya idul fitri ini. Bapak/Ibu guru memberikan ceramah sedikit dan setelah itu berdoa.
Setelah selesai siswa-siswi bersalaman kepada para guru dan perwakilan kelompok memberikan selembaran kertas untuk di tandatangani guru yang telah di kunjungi.
Kegiatan ini bertujuan untuk saling memanfaatkan dan menjalin silaturrahim antara guru dan siswa-siswi .
Syawal merupakan waktu yang tepat untuk meminta maaf. Tentu saja di antara guru dan murid ada kesalahan selama ini yang terpendam, sehingga bisa disampaikan permohonan maaf melalui ucapan.
Salah satu yang dilupakan oleh para pelajar jaman sekarang adalah silaturrahim kepada guru yang pernah mengajar dan mendidiknya. Padahal bersilaturrahim kepada guru sangat bermanfaat bagi seorang murid.
Saat ini banyak pelajar yang hanya mementingkan ilmu pengetahuan tanpa memerhatikan adab. Ilmu itu terbagi menjadi dua yaitu ilmu dzahir dan batin. Ilmu dzahir adalah ilmu yang bisa didapat dengan kerja keras dan pasti akan berhasil. Sedangkan ilmu batin adalah ilmu yang didapat dari ketaatan kepada guru, berakhlak kepada guru, menghormatinya. Karena itulah banyak orang yang di sekolah atau pondok yang biasa saja tidak terlalu pintar. Namun setelah kembali ke masyarakat ilmunya berguna, ketika hendak melamar pekerjaan mudah di terima.
Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi berkata” Ketahuilah, adab adalah tepung sedangkan ilmu adalah garamnya. Ilmu itu hanyalah keberkahan semata”.
Dapat kita ketahui dari perkataan beliau bahwa adab merupakan hal yang sangat penting dari pada ilmu. Orang yang paling baik di dunia ini ialah orang yang baik kelakuannya. Bukan orang yang berilmu. Karena orang beradab pasti berilmu sedangkan orang pintar belum tentu adab.
Pernah suatu ketika Imam Nawawi hendak belajar kepada seorang guru. Beliau bersedekah di perjalanan dan mendoakan gurunya “Ya, Allah tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yang menyampaikan kekurangan guruku kepadaku”.
Para ulama hakikat mengatakan,”70 persen ilmu itu diperoleh dari kuatnya hubungan (batin, adab dan baik sangka) antara murid dengan gurunya”
Dengan sambungnya kita kepada guru kita pasti mereka senang. Senangnya guru inilah yang membuat mereka ridho dengan kita. Selain itu kita bisa meminta langsung kepada mereka agar selalu mendo’akan agar diberi ilmu yang bermanfaat.

